Atlet di Kampung Pesilat Minim Prestasi, IPSI Kota Madiun Ungkap Penyebabnya

Pencak Silat (Antara/Melvinas Priananda)
04 September 2018 16:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Julukan Kota Madiun sebagai Kampung Pesilat ternyata tidak berbanding lurus dengan prestasi yang ditorehkan para pesilatnya. Salah satu buktinya, dari sejumlah atlet pencak silat dan peraih medali di ajang Asian Games 2018 tidak ada satu pun wakil dari Kota Madiun.

Padahal, ada satu wakil pesilat Ponorogo yang ikut mengharumkan nama bangsa di ajang olahraga se-Asia itu, Aji Bangkit Pamungkas. Bangkit meraih medali emas dalam ajang tersebut.

Kegelisahan minimnya prestasi yang ditorehkan pesilat asal Madiun ini dirasakan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Madiun, Murjoko. Dia menyampaikan perhatian Pemkot Madiun terhadap prestasi pencak silat masih kurang.

Hal itu terbukti dengan minimnya dukungan dana untuk pembinaan dan pengiriman atlet berkompetisi di berbagai kejuaraan.

Padahal, Madiun selama ini sudah dikenal sebagai Kampung Pesilat. Di Madiun juga menjadi pusat latihan perguruan silat terbesar di Indonesia. Tetapi prestasinya justru kalah dengan daerah lain.

"Kemarin di ajang Asian Games ada satu pesilat dari Ponorogo yang berprestasi. Saya melihat atlet itu dibina secara benar mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga ajang internasional. Ini butuh pembinaan yang berjenjang dan rutin," kata dia kepada wartawan di Gedung Diklat Kota Madiun, Senin (3/9/2018).

Murjoko membeberkan selama ini IPSI Kota Madiun kesulitan dalam pendanaan. Pemerintah kota hanya memberikan anggaran sedikit untuk kegiatan IPSI selama satu tahun.

Dia mencatat pada tahun 2015, IPSI Kota Madiun hanya mendapatkan anggaran Rp7,5 juta. Sedangkan tahun 2016 dan 2017, IPSI Kota Madiun tidak mendapatkan anggaran sama sekali.

"Tahun 2018 ini saya ga tahu. Sepertinya tidak ada," ujar dia.

Padahal, kata Murjoko, dukungan anggaran ini sangat penting bagi pembinaan atlet di cabang pencak silat. Sehingga selama ini untuk pembinaan atlet, IPSI tidak bisa berbuat banyak dan dikembalikan ke perguruan masing-masing.

"Kalau ada event kejuaraan baru kita kumpulkan. Atlet dari perguruan kita seleksi dan nanti dikirim ke kejuaraan. Untuk biaya kita tanggung sama-sama," ujar dia.

Lebih lanjut, Murjoko menuturkan IPSI Kota Madiun juga jarang menggelar kejuaraan pencak silat. Padahal, kejuaraan ini sangat penting untuk pembinaan atlet dan menambah jam terbang pesilat.

"Tahun 2018 ini ada kejuaraan pencak silat, tapi yang menggelar Pemkot Madiun," ujar dia.

Kegelisahan yang sama juga disampaikan Ketua Perguruan Pencak Silat Merpati Putih Madiun, Syaiful Anwar.

Syaiful menuturkan selama ini Madiun dikenal sebagai gudangnya perguruan silat. Tetapi justru prestasi pesilatnya sangat kurang. Menurut dia, untuk mencari bibit atlet silat yang unggul cukup sulit.

Kesulitannya karena banyak atlet yang minim jam terbang dalam mengikuti kejuaraan. "Biasanya saat ikut kejuaraan di Porprov maupun Kejurprov, kami asal ambil atlet saja. Itu pun dengan biaya kami sendiri," kata pria yang juga pengurus IPSI Kota Madiun itu.

Dia menceritakan pada tahun lalu tim pesilat dari Madiun hanya mendapatkan uang Rp1,5 juta untuk mengikuti kejuaraan piala Gubernur Jatim dari Pemkot Madiun. Padahal saat itu tim dari Madiun membawa lima atlet, dua pelatih, dan satu official.

"Kami berharap kejuaraan pencak silat bisa digelar secara rutin sehingga bisa menjadi pengalaman tanding bagi atlet," ujar dia. 

Tokopedia