Guru Besar Antropologi Unair Prof. Glinka Berpulang, Ini Wasiatnya

Prof. Habil Josef Glinka. (Bisnis/Istimewa)
31 Agustus 2018 17:05 WIB Choirul Anam Madiun Share :

Madiunpos.com, MALANG -- Kabar duka datang dari dunia pendidikan Tanah Air. Guru Besar Emeritus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya sekaligus perintis antropologi ragawi Indonesia Profesor Habil Josef Glinka, meninggal dunia Kamis (30/8/2018) malam di Rumah Sakit Katolik Vincentius A. Paulo, Surabaya, Jawa Timur.

Dalam keterangan resmi Pusat Informasi dan Humas Unair yang diterima Bisnis/JIBI, Jumat (31/8/2018), Prof. Glinka semasa hidup banyak memberikan sumbangsih akademik untuk perkembangan antropologi, bukan hanya di Unair, namun di Indonesia.

Bersama Lie Gwan Liong atau yang lebih akrab disapa Adi Sukadana, Glinka merintis berdirinya Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair pada 1985.

Pada pekan-pekan awal, Glinka bersama Adi Sukadana mengajar hingga 14 jam per pekan. Ia mengajar bukan hanya di Fisip, tapi juga di Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unair.

Pria kelahiran Chorzow, Polandia, 7 Juni 1932, itu lantas dikenal sebagai Antropolog Ragawi, sementara Adi Sukadana sebagai Antropolog Budaya.

Selama 27 tahun mengembangkan antropologi di Unair, tepatnya pada 2012, Glinka meminta pensiun karena alasan fisik tak lagi kuat naik-turun tangga. Namun ia masih sering dimintai dosen maupun mahasiswa untuk konsultasi, haring keilmuan, penguji eksternal dalam ujian doktor, hingga mengisi seminar.

Glinka meraih gelar profesor dari Universitas Jagiellonian, Krakow, Polandia, pada 1977. Ia adalah antropolog lulusan Adam Mickiewicz University, Pozna, Polandia, yang secara kebetulan menulis disertasi doktoral mengenai Indonesia.

Pastor lulusan Seminari Tinggi SVD di Pieniezno, Polandia, pada 1957 itu mengajar di Seminari Tinggi Ledalero, Flores sejak tahun 1966 sampai 1985.

Tahun 1984, atas persetujuan Prof Glinka, Adi Sukadana menulis surat untuk pimpinan Glinka di Roma. Setelah disetujui, pada Februari 1984, Glinka lantas pindah ke Surabaya hingga tutup usia pada umur 86 tahun.

Juni 2016, saat diwawancarai Unair News, Glinka mengaku telah menulis surat wasiat. Ia akan menyerahkan semua buku antropologi untuk disumbangkan sebagai bahan studi dan referensi antropologi di Unair.

Glinka juga dikenal sebagai seorang poliglot, penguasa lebih dari satu bahasa. Ada sembilan bahasa yang Glinka mengerti, tapi cuma empat bahasa yang benar-benar ia kuasai. Bahasa Jerman dan Polandia dia dapat sejak bayi  karena mama Glinka asli Jerman sedangkan ayahnya Polandia. Yang lain bahasa Indonesia, Inggris, Ibrani, Yunani, dan Prancis.