Gua Temuan di Tuban Layak Dikelola Jadi Objek Wisata

Anggota Astaga turun meneliti temuan gua di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban, Minggu (5/8 - 2018). (Antara/Slamet Agus Sudarmojo)
16 Agustus 2018 20:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, TUBAN --  Asosiasi Wisata Goa Indonesia (Astaga) Komisariat Jawa Timur menilai gua temuan di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban, Jawa Timur, layak dikembangkan sebagai objek wisata.

Perwakilan Asosiasi Wisata Goa Indonesia Komisariat Jawa Timur, Nafikur Rochman, saat dihubungi dari Bojonegoro, Rabu (15/8/2018), menjelaskan gua di Desa Jadi yang ditemukan penambang pada 2 Agustus 2018 lalu, layak dikembangkan sebagai objek wisata umum, edukasi juga minat khusus.

Dia menambahkan dengan dikembangkannya gua di Tuban sebagai objek wisata, sekaligus bisa mengalihkan pekerjaan warga sebagai penambang batu kumbung sebagai pengelola objek wisata.

"Saat ini penambangan batu kumbung masih berlangsung, tapi tidak lagi di atas rongga gua. Penambangan yang sudah berlangsung mengakibatkan sudah mendekati atap gua," ucapnya.

Menurut Nafikur Rochman, kalau ada penambangan batu kumbung berlangsung di atas rongga gua akan mengancam gua yang bisa mengakibatkan runtuh.

"Gua bisa ambrol kalau di atasnya ada penambangan, sebab posisinya sudah mendekati atap gua," kata dia yang juga anggota Mahasiswa Pencinta Alama Universitas Ronggolawe (Mahipal) Tuban.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Astaga pada 5 Agustus 2018, gua di desa setempat yang oleh pemilih tanahnya, Sumosayu, 73, diberi nama Gua Pertiwi itu memiliki panjang 226 meter, tapi kalau diukur secara datar panjangnya 224 meter.

Gua memiliki kedalaman 26 meter, sedangkan kalau dilihat dari permukaan tanah tambang kedalamannya mencapai 31 meter. Ketinggian atap gua sampai lantai dasar tertinggi 11 meter dan terendah 0,5 meter.

"Tim Astaga membagi gua menjadi 18 stasiun," ucapnya. Ia menyebutkan dari 18 stasiun gua itu, di antaranya stasiun gua terlebar 18,3 meter di stasiun 11 dan paling sempit 1,7 meter di stasiun 15.

Menurut dia, cara menentukan stasiun yaitu kalau ada perubahan lorong, perubahan bentuk lorong atau arah, perubahan sudut kemiringan. Lainnya faktor adanya penemuan-penemuan penting seperti mata air atau ornamen atau ditemukan sungai.

"Jarak maksimal 30 meter per stasiun, dengan isi di dalam setiap stasiun antara lain, berupa ornamen langka seperti helektit bebatuan yang membentuk aliran ke samping dan helemid dari bawah ke atas," kata dia menjelaskan.  

Kapolsek Semanding, Tuban AKP Desis Susilo, menambahkan petugas terus melakukan penjagaan agar penambangan batu kumbung tidak merusak gua temuan. "Kami menempatkan sejumlah petugas untuk berjaga-jaga di lokasi gua temuan," ucapnya.

Gua di lokasi penambangan batu kumbung di desa setempat ditemukan Totok Sugianto, 24, anak Sumosayu ketika bekerja menambang batu kumbung pada 2 Agustus. Ketika ia mengergaji batu kumbung diketahui berlubang dan keluar angin yang cukup kencang dari dalam gua.

Wakil Bupati Tuban Noor Nahar Hussein yang berkunjung ke lokasi gua temuan meminta penambangan batu kumbung dihentkan agar tidak mengakibatkan gua runtuh. "Pemkab akan mendukung kalau memang gua temuan ini layak dikembangkan sebagai objek wiasta," ucapnya. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara