Peternak Tulungagung Mengeluh Perawatan Unggas Kian Sulit

Pekerja membersihkan kandang di peternakan ayam. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
04 Agustus 2018 16:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, TULUNGAGUNG -- Peternak unggas di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengeluhkan perawatan unggas kini semakin rumit sebagai dampak pelarangan penggunaan antibiotic growth promoters (AGP) dalam pakan ayam.

Kondisi itu berimbas pada kenaikan biaya produksi.

Salah seorang peternak unggas jenis ayam pedaging di Tulungagung, Rudi Anshori, mengungkapkan usaha ternak ayam buras yang ditekuninya saat ini dalam masa sulit karena tingginya biaya pakan dan perawatan selama satu periode masa ternak.

"Sekalipun harga [daging] ayam saat ini tinggi, biaya produksinya juga berlipat dua kali. Dan lebih rumit [perawatan], karena ternak lebih rentan terhadap penyakit," katanya di Tulungagung, Sabtu (4/8/2018).

Rudi mengaku lebih suka saat harga ayam potong atau ayam pedaging masih di kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram, di mana pakan saat itu masih menggunakan unsur AGP.

Setelah pelarangan AGP harga ayam pedaging di tingkat peternak naik hingga kisaran Rp23.000 per kilogram, namun hal itu juga diikuti pembengkakan biaya perawatan hingga dua kali lipat bahkan lebih.

Belum lagi rasio kematian rata-rata mencapai 20 persen akibat unggas (ayam buras) menjadi lebih rentan terserang penyakit.

"Rasanya lebih enak dulu [waktu masih pakai AGP]. Meski murah, perawatan lebih mudah, ayam lebih gemuk dan tidak mudah kena penyakit. Ibaratnya [perawatan] sambil ditinggal tidur pun, bisa panen. Sekarang tidak bisa," katanya.

Rudi lalu membandingkan volume pakan dan durasi satu periode masa ternak, antara saat menggunakan AGP dan pascapelarangan

"Untuk kapasitas 2.000 ekor ayam pedaging, dulu saat pakan masih pakai AGP durasi ternak mulai bibit (DOC) hingga dewasa dan siap panen rata-rata 35 hari dengan volume pakan sekitar 135 sak (68 kuintal). Sekarang dengan tanpa AGP masa ternak lebih panjang menjadi 40-45 hari dengan volume pakan bisa 200 sak untuk satu periode masa ternak," tuturnya.

Rudi dan sejumlah peternak ayam pedaging lain sudah mencoba menggunakan suplemen nutrisi tambahan dari unsur herbal maupun susu, seperti jamu-jamuan, susu merek bear brand, yakult dan semacamnya.

Pembersihan kandang kini juga lebih rutin, hampir tiap hari. Namun upaya itu masih belum mampu menekan biaya produksi maupun hasil panen ternak seperti saat pakan unggas masih menggunakan AGP.

"Solusinya ya peternak yang harus lebih optimal dalam membuat sistem sanitasi dan bio-security yang baik. Supaya risiko terkontaminasi penyakit bisa diminimalkan," kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung, Mulyanto.

Mulyanto menegaskan larangan AGP dalam pakan ternak sudah menjadi kebijakan yang wajib dipatuhi oleh semua produsen pakan ternak, sehingga solusi untuk peternak adalah membangun sistem keamanan kesehatan ternak dengan bahan herbal serta menjaga kebersihan kandang. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara