Meriahkan Larung Sembonyo, Nelayan Trenggalek Tak Melaut 3 Hari

Nelayan menarik dua rakit berisi sesaji buceng lanang dan buceng wadon dalam ritual Larung Sembonyo di tepi dermaga Pelabuhan Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (29/7 - 2018). (Antara/Destyan Sujarwoko)
30 Juli 2018 18:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, TRENGGALEK -- Ritual adat labuh laut Larung Sembonyo dilaksanakan di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (29/7/2018). Pada hari itu, seluruh nelayan di Teluk Prigi menghentikan segala aktivitas melaut alias mencari ikan di laut.

Kalaupun ada aktivitas kapal hari itu adalah dalam rangka memeriahkan kegiatan larung sesaji sedekah laut, dengan mengangkut ratusan penumpang yang ingin menyaksikan proses larungan hingga ke batas teluk dengan perairan dalam (laut bebas).

Kemarin, lebih dari 250 unit kapal jenis slerek (porse seine) dan 300-an kapal pancing labuh jangkar di kolam-kolam labuh dermaga.

"Ini sudah menjadi kesepakatan sosial antarnelayan di (Pelabuhan) Prigi. Bahwa selama gelaran Larung Sembonyo tak boleh ada yang melaut," kata Ketua Panitia Labuh Laut Larung Sembonyo, Sukariyanto.

Dia menjelaskan penghentian aktivitas melaut berlaku selama tiga hari atau 3 x 24 jam, dimulai sejak Sabtu (28/7/2018) dan berakhir pada Senin (30/7/2018) malam.

"Setelah itu nelayan boleh melaut lagi. Kalau selama sembonyoan ada yang mencuri kesempatan melaut, akan dikenakan denda sesuai kesepakatan adat," katanya.

Aturan tidak melaut selama tiga hari berturut itu konon menjadi bagian tradisi yang dianut nelayan di Teluk Prigi sejak lama.

Maksud penghentian adalah untuk mencegah ada nelayan yang memanfaatkan kesempatan berburu ikan di saat mayoritas nelayan lain fokus menyiapkan pesta adat dan labuh laut yang juga digelar tiga hari berturut, mulai Sabtu hingga Senin ini.

Rangkaian acara diawali dengan kegiatan keagamaan dan sosial, seperti selawatan karena mayoritas warga pesisir Prigi beragama Islam, santunan 125 yatim-piatu, dan pengajian pada Sabtu.

Dilanjutkan puncak prosesi larung sembonyo di dermaga utama Pelabuhan Prigi yang diselingi arak-arakan buceng lanang-buceng wadon dan hiburan campursari-dangdut pada Minggu.

Seluruh rangkaian acara dalam rangka tradisi sembonyo di Pelabuhan Prigi ditutup pada Senin dengan acara pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang masih menjadi hiburan favorit warga Trenggalek.

"Acara sembonyoan ini menghabiskan anggaran kurang lebih Rp200 juta yang merupakan hasil patungan seluruh nelayan, serta dukungan sponsor," kata Sukariyanto.

Bupati Emil Elestianto Dardak maupun Wabup Mochammad Nur Arifin tak terlihat hadir dalam ritual adat terbesar di Trenggalek yang sebelum-sebelumnya selalu dihadiri kepala daerah terebut.

Camat Watulimo Retno Wahyudianto mengatakan Bupati tidak bisa hadir lantaran sedang tugas dinas luar kota memenuhi undangan kegiatan Presiden Joko Widodo di Makasar, Sulawesi.

Sementara Wabup M. Nur Arifin juga sedang berkegiatan di luar kota yang jadwalnya disebut Retno bersamaan dengan puncak acara larungan di Prigi.

"Semoga meski tanpa kehadiran beliau berdua, pelaksanaan labuh laut larung sembonyo yang sudah menjadi adat nelayan ke depan akan lebih berkembang lagi dan semakin baik, sehingga bisa menarik wisatawan," katanya.

Labuh laut larung sembonyo memantik minat belasan ribu warga lokal maupun wisatawan luarkota berdatangan untuk menyaksikan prosesi adat terbesar yang bertujuan sebagai wujud syukur dan harapan akan limpahan rezeki tangkapan ikan bagi para nelayan. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Tokopedia

Sumber : Antara