Bahu-Membahu Buka Akses Wisata Hutan Desa Bodag Madiun

Prajurit TNI dan warga saat bergotong royong membangun jalan kawasan wisata Selo Gedong, Desa Bodag, Kare, Kabupaten Madiun, Kamis (19/7 - 2018). (Solopos/Abdul Jalil)
20 Juli 2018 13:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Puluhan anggota TNI berseragam loreng hijau beserta warga bergotong royong membawa pasir dan kerikil ke lokasi pembangunan  jalan rabat kawasan wisata Selo Gedong, Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis 919/7/2018).

Dengan peralatan sederhana, mereka mengaduk pasir dicampur semen dan kerikil. Setelah itu, cor-coran itu diangkut dan dituangkan di jalanan.

Kebersamaan antara TNI dan warga benar-benar terasa dalam program Tentara Manunggal Membangun Desa  (TMMD) ke-102 di kawasan itu. Mereka tidak hanya dihadapkan jalan yang menanjak, namun juga jalan rabat di kawasan itu yang curam dan masih berupa tanah.

Mereka harus ekstra hati-hati saat menaikkan barang material untuk pembangunan jalan. Kawasan wisata Selo Gedong ini merupakan tempat wisata alam yang baru dibuka masyarakat setempat setahun terakhir.

Tempat wisata ini berada di tengah hutan pinus milik Perhutani. Jadi tak heran kalau jalan menuju kawasan wisata ini sulit dan terjal. Belum ada jalanan yang dicor, apalagi diaspal.

Dengan segala potensi yang ada, TMMD pada 2018 ini memfokuskan pada pembangunan jalan menuju kawasan wisata Selo Gedong ini. Jalan yang akan dibangun sepanjang 1.462,56 meter dengan lebar 3 meter.

Jalan ini dibangun mulai dari perkampungan warga hingga titik lokasi wisata sehingga nantinya mempermudah wisatawan untuk berkunjung ke lokasi wisata ini.

Tempat wisata Selo Gedong yang menawarkan wisata alam daerah pegunungan dengan taman bebatuan besar memang kalah populer dengan tempat wisata alam lainnya seperti kawasan wisata Nongko Ijo, kawasan wisata Sungai Grape, dan lainnya. Namun, diyakini kawasan ini juga bisa menjadi populer saat akses jalanan dibuka.

Kepala Desa Bodag, Kecamatan Kare, Dangkung, menceritakan awalnya kawasan wisata Selo Gedong ini merupakan kawasan hutan yang tidak memiliki akses. Setahun lalu, warga setempat berinisiatif membuka dan membangun kawasan tersebut menjadi lokasi wisata. Hal ini melihat potensi alam di hutan yang luasnya mencapai puluhan hektare itu.

Setelah tempat wisata ini dibuka, promosi dilakukan untuk memperkenalkan tempat wisata ini kepada khalayak. Tetapi karena aksesnya sulit tidak banyak wisatawan yang datang ke tempat ini.

Hanya ada jalan setapak yang bisa dimanfaatkan untuk menuju ke lokasi, sedangkan sepeda motor tidak bisa lewat. “Selanjutnya kami mengajukan perbaikan jalan ini dalam program TMMD. Ini tentu sangat bermanfaat sekali,” ujar dia seusai peninjauan lokasi TMMD di Desa Bodag, Kamis (19/7/2018).

Dangkung menyampaikan pemerintah  desa kesulitan kalau hanya mengandalkan dana desa untuk pembangunan jalan tersebut. Apalagi melihat kondisi jalan yang terjal dan penuh bebatuan itu.

“Ini kalau yang mengerjakan bukan TNI enggak selesai karena melihat kondisi jalan yang berat,” ujar dia.

Komandan Pusat Teritorial TNI Angkatan Darat (Danpusterad) Mabesad, Mayjen TNI Hartomo, saat meninjau lokasi TMMD di Desa Bodag mengakui jalan yang ditempuh menuju lokasi itu sangat berat dan penuh tantangan. “Medannya cukup berat, seumuran saya untuk naik itu luar biasa. Tadi saya naik motor saja sudah luar bisa. Jalannya nanjak,” ujar dia.

Hartomo melihat ada komitmen antara masyarakat dan anggota TNI untuk membangun jalanan di kawasan wisata ini. Dia melihat dengan kondisi medan yang cukup berat, mereka bisa membangun jalan tersebut dengan kualitas yang baik.

Lantaran akses jalan yang sulit, kata dia, warga dan tentara membawa peralatan dan material pembangunan dengan berjalan kaki. Untuk mengaduk olahan cor-coran, juga tidak bisa menggunakan mobil molen, tetapi hanya molen kecil. Kondisi ini membuat pekerjaan tidak bisa berjalan dengan cepat. Karena semuanya dikerjakan secara manual.

Jalan yang sudah dibangun saat ini mencapai 450 meter dari total 1.462,56 meter. Pembangunan jalan ini diharapkan bisa menjadi titik terang pengembangan kawasan wisata di desa setempat.

Saat lokasi wisata ini dibuka, hanya pemuda yang dapat menikmati pemandangan di kaki Gunung Wilis tersebut. Akses jalan menjadi alasan utamanya. Namun, setelah ada pembangunan jalan ini tentu siapapun baik itu anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, dan lansia bisa menikmati pemandangan Kota Madiun dari ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut.

Selain membangun jalan wisata itu, pada program TMMD ke-102 ini juga merehab Masjid Nurul Hidayah dan tempat TPA di Desa Bodag. Pembangunan saluran irigasi pertanian sepanjang 100 meter x 0,5 meter, pembangunan MCK umum dua unit, memperbaiki empat rumah tidak layak huni.

Selain itu, juga ada program nonfisik seperti penyuluhan wawasan kebangsaan, penyuluhan kesehatan, penyuluhan pelestarian hutan, penyuluhan kamtibmas, penyuluhan peternakan, penyuluhan industri kecil, penyuluhan kependudukan, kegiatan pasar murah, sosialisasi rekrutmen TNI/Polri, kegiatan pemutaran film, dan panggung hiburan.