Begini Aktivitas Warga Saat Waduk Dawuhan Madiun Surut

Aktivitas warga di sekitar Waduk Dawuhan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Rabu (18/7 - 2018). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
19 Juli 2018 06:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Dua bocah bernama Reza Alfarado dan Niko Putra berjalan di pinggir Waduk Dawuhan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Rabu (18/7/2018) siang. Mereka menenteng pancing beserta umpannya dan siap menceburkannya di air waduk.

Dua anak yang berusia delapan tahun itu mengaku memancing merupakan kegiatan yang dilakukan sehabis pulang sekolah. "Di sini ikannya banyak, saya kerap ke sini untuk memancing," ujar Reza.

Selain dua bocah tersebut, ada sejumlah warga lainnya yang juga menghabiskan waktu siangnya dengan memancing. Mereka menyebar di segala penjuru di waduk itu.

Waduk yang memiliki luas 1.273 hektare ini menjadi salah satu lokasi favorit warga untuk memancing. Apalagi saat debit air menyusut seperti sekarang ini.

Selain sebagai tempat favorit memancing, area waduk itu menjadi salah satu tempat bermain anak-anak warga yang tinggal di sekitarnya. Terlihat siang itu ada beberapa anak yang menerbangkan layang-layang dan sebagian lagi berlarian di pinggir waduk. Cuaca yang terik tidak menghalangi keceriaan anak-anak desa itu.

Tiga perahu milik warga bersandar dan diikat seadanya di bibir waduk. Dua orang terlihat menaiki perahu dari balik bukit. Secara perlahan perahu itu menyusuri air waduk yang saat itu berwarna kecokelatan.

Kedua pria itu membawa tas kecil yang berisi bekal serta alat pertanian seperti sabit. Meski tampak kelelahan, dua petani itu kemudian menyandarkan perahunya secara perlahan.

Salah satu petani itu, Tamsi, 40, mengatakan dirinya habis berladang di sekitar waduk. Perahu merupakan alat transportasi paling efektif menuju ke ladang maupun areal persawahan.

"Sebenarnya bisa kalau lewat jalur darat, tetapi harus memutar sekitar 5 km. Jalannya juga melewati hutan. Lebih efektif dengan perahu," jelas dia.

Tamsi menuturkan perahu memang disediakan hanya untuk kegiatan bertani warga dan memancing. Setiap orang yang menggunakan perahu ini membayar Rp2.000 untuk biaya beli solar yang merupakan bahan bakar mesin diesel perahu.

Biasanya para petani mulai berladang atau ke sawah menggunakan perahu pada pagi hari. Kemudian pada siang atau sore hari, mereka pulang juga menggunakan perahu.

Di musim kemarau seperti sekarang ini, kata dia, air di Waduk Dawuhan surut. Sejak awal bulan Mei lalu, debit air di waduk itu mulai surut secara perlahan-lahan. Hingga saat ini air di waduk bisa dikatakan tinggal separuh saja.

"Kalau pas musim penghujan ya penuh. Tapi ini tinggal separuh, itu ada garisnya," kata dia sambil menunjukkan garis batas air.

Kondisi tersebut akan semakin parah beberapa bulan ke depan saat musim kemarau masih terjadi. Meski demikian, dirinya tidak kesulitan mencari air untuk kebutuhan pertanian.

Petani lainnya, Lasmin, juga menuturkan hal yang sama. Untuk areal persawahan yang ada di sekitar waduk memang tidak kesulitan air untuk pengairan. Biasanya yang kesulitan yaitu desa-desa di bawahnya.

"Kalau desa di bawahnya mulai musim tanam. Itu biasanya kesulitan air," ujar dia.

Lasmin menuturkan air di waduk ini hanya untuk memenuhi kebutuhan pertanian saja. Sedangkan untuk kebutuhan air minum dan rumah tangga, warga menggunakan air dari sumur.

"Warga memang gak mengonsumsi air dari waduk. Kami minum dan mandi dari air sumur," ujar warga Desa Sidomulyo itu.

Untuk saat ini, musim kemarau belum begitu terasa di desanya. Kebutuhan air baik untuk konsumsi maupun untuk pertanian masih tercukupi. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

 
 
Tokopedia