Ribuan Pesilat Peringati 1.000 Hari Mantan Ketum PSHT di Padepokan Madiun

Ribuan pesilat mengikuti acara peringatan 1.000 hari meninggalnya mantan Ketum PSHT di Padepokan PSHT Kota Madiun, Minggu (15/7 - 2018) malam. (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
16 Juli 2018 08:45 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN – Ribuan pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) memadati acara malam peringatan 1.000 hari KRAT Tarmadji Boedi Harsono yang merupakan guru besar PSHT dan mantan Ketua Umum PSHT. Acara malam peringatan 1.000 hari meninggalnya KRAT Tarmadji Boedi Harsono digelar di Padepokan Agung PSHT di Jl. Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kota Madiun, Minggu (15/7/2018) malam.

Pada peringatan 1.000 hari mantan Ketum PSHT itu mendatangkan Cak Nun atau Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjeng. Selain Cak Nun, sejumlah pejabat daerah seperti Bupati Trenggalek yang juga calon wakil gubernur Jawa Timur terpilih, Emil Dardak juga hadir dalam hajatan itu. Ada juga calon wali kota Madiun terpilih, Maidi, dan calon bupati Madiun terpilih Ahmad Dawami juga hadir di acara itu.

Pantauan Madiunpos.com di Padepokan PSHT, Minggu sekitar pukul 20.00 WIB, ribuan pesilat dari PSHT memadati kawasan padepokan. Mereka mengenakan seragam serba hitam kemudian masuk di padepokan. Tidak semua anggota PSHT diizinkan masuk ke dalam padepokan, hanya pesilat yang memiliki undangan yang diperbolehkan masuk.

"Untuk yang tidak memiliki undangan bisa melihat melalui layar yang telah disediakan di lapangan padepokan," ujar salah satu panitia.

Ketua Umum PSHT, R Mardjoko HW, dalam sambutannya mengatakan acara ini untuk mengenang 1.000 hari meninggalnya mantan Ketum PSHT, KRAT Tarmadji Boedi Harsono. Selain itu, acara ini juga untuk mengenang seluruh pendiri PSHT yang telah meninggal dunia.

Dia menyampaikan keberhasilian SH Terate tidak bisa lepas dari jerih payah pemikiran para pendahulu dan pendiri PSHT. "Kepada pendahulu kami yang telah berjasa. Semoga diampuni segala dosanya," ujar dia.

Dalam peringatan tersebut, kata Mardjoko, keluarga besar PSHT memberikan sebuah penghargaan berupa lencana kepada 10 pendiri PSHT. Pemberian lencana ini sebagai bentuk penghargaan atas segala jasa yang telah dilakukan selama ini. Beberapa nama yang diberikan lencana yaitu Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang merupakan Pendiri PSHT, Soetomo Mangkoedjojo, KRAT Tarmadji Boedi Harsono, dan lainnya.

Dalam acara itu juga dibacakan sejarah perjalanan PSHT dari awal berdiri sampai saat ini memiliki ratusan cabang di seluruh Indonesia.

Cak Nun sebelum memulai pengajian juga bercerita kisah hidupnya yang dekat dengan tradisi pencak silat. Namun, dirinya justru tidak belajar ilmu bela diri silat.

"Aku kok merasa iri karena ga bisa pencak silat. Saya bersyukur bisa diterima di sini," ujar Cak Nun sebelum memulai melantunkan salawat dengan diiringi musik Kiai Kanjeng.

Tokopedia