Jatim Kejar Target Pembangunan 20.000 Rumah

ilustrasi perumahan komersial. (Solopos/Dok)
13 Juli 2018 21:05 WIB Choirul Anam Madiun Share :

Madiunpos.com, MALANG —  Realisasi pembangunan rumah oleh anggota Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jawa Timur (Jatim) hingga kini baru mencapai 900 unit sehingga membutuhkan kerja keras untuk mencapai target 20.000 unit.

Hal itu demi mewujudkan program pemerintah membangun 1 juta rumah. “Dengan regulasi yang kondusif, baik dari pemda, BPN, dan perbankan, maka target tersebut optimis dapat tercapai,” kata Ketua DPD Apersi Jatim Makhrus Sholeh di Malang, Jumat (13/7/2018).

Perlunya pemda, BPN, dan perbankan dalam mendukung program 1 juta rumah, juga dia sampaikan saat Halal Bihalal DPD Apersi Jatim di Surabaya, Kamis (12/7/2018).

Menurut Makhrus Sholeh, sampai saat ini masih banyak praktik di daerah yang memungut dana dari pengembang secara tidak resmi mulai dari tingkat RW. Dalam benak si pemungut dana, ungkap dia, membangun rumah bersubsidi merupakan kegiatan bisnis murni. Padahal ada juga misi sosialnya, yakni menyediakan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

“Untuk perbankan, sudah sangat mendukung, namun harapan kami bank perlu segera mengucurkan kredit dengan bunga yang rendah, bahkan 0%, agar penjualan rumah bisa lebih cepat,” ujarnya.

Jika pemda, BPN, dan perbankan betul-betul kondusif bagi pengembang, pihaknya optimistis program 1 juta rumah, termasuk 20.000 unit rumah di Jatim sesuai target Apersi dapat terealisasi.

Menurut dia, peluang membangun rumah masih terbuka di beberapa daerah, seperti Kediri, Blitar Kediri, Trenggalek, Jember, Probolinggo, Pasuruan, Gresik, dan Sidoarjo.

Hambatan regulasi lainnya, kata dia, terkait ketentuan penggunaan besi sebesar kolom 10 mm dari pemerintah sempat membuat takut pengembang. Pasalnya, di lapangan bisa saja ukuran dari kolom besi tidak mencapai persis 10 mm.

“Ancamannya penjara, karena itulah pengembang perumahan bersubsidi menjadi takut membangun rumah,” katanya.

Terkait dengan permintaan rumah bersubsidi, dia mengaku yakin masih cukup tinggi. Hal itu terkait dengan angka backlog perumahan yang masih besar dan terus meningkat seiring bertambahnya keluarga-keluarga baru.

Dengan adanya bank yang menyalurkan KPR dengan uang muka yang rendah, apalagi 0%, maka peluang keluarga-keluarga baru maupun masyarakat secara umum yang kesulitan mengumpulkan dana untuk uang muka yang tinggi bisa diatasi.

“Kami harap segera direalisasikan. Kebijakan itu positif sekali, meski bank tetap harus berhati-hati agar NPL-nya tidak naik karena KPR tidak lancar,” ucapnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya