ITS Surabaya Bikin Alarm Peringatan Dini untuk Kapal

Keluarga korban KM Sinar Bangun memanjatkan doa saat tabur bunga di Danau Toba, Sumatra Utara, Senin (2/7 - 2018). (Antara/Sigid Kurniawan)
13 Juli 2018 03:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Tragedi kapal tenggelam di Danau Toba, Sumatra Utara, disusul kapal kandas di perariran Selayar, Sulawesi Selatan, yang menelan korban jiwa beberapa waktu lalu membuat masyarakat Indonesia berduka.

Untuk mencegah musibah serupa terjadi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan sebuah inovasi teknologi berupa sistem pencegahan dini pada kapal saat berada dalam zona berbahaya.

Wakil Rektor IV Bidang Inovasi, Kerjasama, Kealumnian, dan Hubungan Internasional ITS, Ketut Buda Artana, mengatakan teknologi tersebut bernama Automatic Identification System ITS (Aisits) yang berfungsi sebagai alarm peringatan dini yang dapat meminimalisasi kemungkinan bahaya-bahaya di laut.

"Inovasi yang dikembangkan bersama Kobe University Jepang ini dapat menampilkan data secara real time sebuah peringatan dini jika kapal mendekati zona bahaya, di mana Aisits akan mengirim alarm jika ia memasuki zona bahaya misalnya terdapat instalasi kelautan seperti pipa atau kabel bawah laut,” jelasnya dalam rilis yang diterima Bisnis/JIBI, Selasa (10/7/2018).

Dia mengatakan keselamatan lalu lintas laut selama ini telah menjadi isu penelitian penting di beberapa tahun terakhir karena tingginya angka kecelakaan maritim, terutama pada kasus tabrakan kapal laut.

Ketut Budi Artana menambahkan berdasarkan data statistik Lloyd's List Intelligence Casualty Statistics, kerugian tertinggi yang diakibatkan kecelakaan kapal pada rentang 2007-2016, terdapat di Laut China Selatan, Indochina, Indonesia termasuk di dalamnya dan juga Filipina.

Misalnya, permasalahan yang terjadi di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) sebagai akses menuju pelabuhan terbesar kedua di Indonesia, yaitu Tanjung Perak.

APBS dikenal sebagai jalur padat lalu-lintas laut. Serta terdapat banyak instalasi pipa minyak dan gas milik berbagai macam perusahaan. “Yang menjadi masalah adalah risiko terjadinya kecelakaan kapal yang melibatkan pipa-pipa tersebut,” ujarnya.

Ketut menjelaskan pipa bawah laut yang berada di wilayah APBS dengan jarak sekitar 100 meter di bawah permukaan laut sangat berisiko. Jika ada kapal karam maupun jangkar yang diturunkan mengenai pipa bisa mengakibatkan dampak yang lebih besar.

“Seperti contoh kasus di teluk Balikpapan beberapa bulan lalu, jangkar kapal yang terbawah arus mengenai pipa minyak milik PT Pertamina dan menyebabkan kebakaran besar,” kata Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS itu.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Tokopedia