DLH Madiun Bikin Rumah Sauna dari Sampah TPA Winongo

Ruang mandi sauna di kompleks TPA Winongo, Kota Madiun. (Solopos/Abdul Jalil)
25 Mei 2018 12:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Sampah kerap menjadi sumber masalah karena volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap harinya sangat besar. Di Kota Madiun saja, per hari bisa mencapai 100 ton.

Tak ayal gunungan sampah terlihat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winongo, Kota Madiun. Tumpukan sampah ini kalau tidak dikelola dengan baik tentu akan menimbulkan masalah baru bagi kesehatan masyarakat.

Tetapi, kalau sampah ini dikelola dengan benar tentu akan berdampak positif dan bisa bernilai ekonomis. Satu bulan terakhir, Dinas Lingkungan Hidup Kota Madiun berinovasi dengan pemanfaatan gas metana yang bersumber dari sampah dengan membuat ruang mandi sauna dengan memanfaatkan gas metana.

Selama ini gas metana yang dihasilkan di TPA Winongo hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar atau pengganti elpiji untuk memasak. Ada sekitar 200 keluarga yang sudah memanfaatkan gas metana ini untuk kebutuhan bahan bakar.

Karena tidak ingin pemanfaatan gas metana hanya untuk bahan bakar memasak, DLH membuka ruangan khusus untuk mandi sauna di kawasan TPA Winongo.

Saat berkunjung ke ruang sauna itu, Kamis (24/5/2018), sejumlah petugas di TPA itu tampak hanya mengenakan celana pendek dan masuk ke ruang sauna. Di dalam ruangan berukuran sekitar 3,5 meter x 3 meter itu terdapat dua kursi panjang. Mereka pun duduk berderet di kursi itu.

Meski uap panas yang dihasilkan di ruang sauna itu berasal dari sampah, tak sedikit pun bau sampah ada di ruangan itu. Justru aroma wangi daun serai yang semerbak memenuhi ruangan. Setelah sekitar lima menit berada di ruangan itu, mereka keluar dengan badan yang penuh keringat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Madiun, Suwarno, mengatakan selama ini gas metana yang dihasilkan di TPA Winongo hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak 200 keluarga sekitar TPA. Kemudian, tercetuslah ide untuk membuat ruangan sauna dari gas metana.

Setelah melakukan berbagai uji coba dan belajar dari Internet mengenai pemanfaatan gas metana maupun sauna. Akhirnya hasil jerih payahnya bersama tim dari DLH membuahkan hasil. Ruang mandi sauna yang pemanasannya bersumber dari gas metana pun berhasil.

"Seluruh benda dan bangunan di rumah sauna ini terbuat dari barang bekas atau sampah. Misalnya temboknya terbuat dari genteng yang sudah tidak kepakai, kursinya dari kayu bekas, atap kayu bekas, dan kacanya juga bekas. Yang baru hanya tungkunya soalnya itu harus beli," jelas dia.

Cara kerja ruang sauna itu seperti sauna pada umumnya, yaitu ruangan tersebut tertutup dan uap dari gas metan dimasukkan ke dalam ruangan itu sehingga ruangan itu menjadi hangat dan beruap.

Uapnya berasal dari air yang dipanaskan dalam tong menggunakan gas metana. Air yang telah mendidih akan mengeluarkan uap. Uap masuk ke selang yang dihubungkan dengan kompor yang memasak ramuan pewangi seperti daun serai, jahe, dan lainnya. Setelah itu, uap tersebut langsung diembuskan ke ruangan sauna.

"Karena diberi serai atau jahe, uapnya menjadi wangi. Biasanya orang bisa bertahan di ruang sauna ini tiga sampai lima menit," jelas dia.

Suwarno menjelaskan manfaat dari mandi uap ini bisa menyehatkan tubuh karena keringat akan mudah keluar. Selain itu juga membersihkan badan karena pori-pori akan membuka dan wewangian akan merasuk ke tubuh.

Saat ini, rumah sauna di TPA Winongo ini belum dibuka untuk umum karena masih perlu ada penyempurnaan. Namun, ke depan akan menjadi tempat umum yang bisa digunakan siapa saja.

Selain itu, lokasi tersebut juga akan dijadikan tempat wisata edukasi. Masyarakat yang berkunjung tidak hanya menikmati mandi sauna, tetapi juga bisa belajar mengenai pengolahan sampah.

"Ini bisa menjadi pembelajaran masyarakat untuk lebih mengurangi sampah dan tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, sampah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan," terang dia.



Tokopedia