Jajanan Takjil Berpengawet Dijual di Kota Blitar, Dinkes Bertindak

ilustrasi pedagang takjil saat Ramadan. (Solopos/Dok)
23 Mei 2018 17:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos,com, BLITAR -- Dinas Kesehatan Kota Blitar, Jawa Timur, menemukan beberapa makanan dijual para pedagang di sejumlah pedagang takjil wilayah Kota Blitar mengandung pengawet makanan. 

Atas temuan itu, Dinkes Kota Blitar akan mengumpulkan pedagang di kota setempat guna melakukan sosialisasi bahan pangan yang sehat. Sehingga, masyarakat sebagai konsumen juga merasa nyaman mengonsumsinya.

"Kami akan mengundang mereka [pedagang] untuk kami lakukan pertemuan, pembinaan dari makanan siap saji," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Blitar Darma Setyawan di Blitar, Rabu (32/5/2018).

Dia mengatakan tim telah melakukan pemantauan tentang makanan yang dijajakan penjual takjil pekan lalu. Hasilnya ada beberapa makanan mengandung pengawet makanan.

Pengawet itu, kata dia, banyak terdapat pada kerupuk. Para pembuat kerupuk mencampurkan bahan pengawet makanan yang sering disebut dengan "Uyah bleng".

Darma Setyawan menambahkan telah mengambil sampel hingga 20 barang dari berbagai macam barang jualan para pedagang di sejumlah titik pasar dadakan di Kota Blitar. Sampel itu dibeli langsung dari pedagang untuk dilakukan tes.

Dalam tes tersebut, dilakukan pemeriksaan makanan apakah mengandung boraks, formalin, zat pewarna. Dan, mayoritas ditemukan zat pengawet di kerupuk yang dijual para pedagang.

Pihaknya berencana mengumpulkan para pedagang pada Kamis (24/5/2018), guna memberikan sosialisasi tentang makanan yang berbahaya dan yang sehat dikonsumsi.

Dia menambahkan, makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti boraks, zat pengawet makanan, zat pewarna memang mayoritas tidak secara langsung memberikan dampak pada tubuh, melainkan efeknya akan terjadi pada jangka panjang.

Bahkan, seringnya mengonsumsi makanan mengandung boraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian.

"Karena produk yang dikonsumsi tidak memberikan dampak langsung ke masyarakat (tubuh), untuk itu kami berikan edukasi agar mereka mengerti, makanan yang harus dihindari," ujarnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

 

Sumber : Antara