Bisnis Manis Cincau Hitam Madiun Saat Ramadan

Cincau hitam (Youtube)
21 Mei 2018 21:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Jaenuri, 65, sepenuh tenaga mengaduk-aduk adonan daun janggelan atau cincau hitam di drum besi setinggi sekitar satu meter di atas tungku bara api. Jaenuri merupakan salah satu pekerja di pusat industri rumahan cincau hitam di Desa Jatisari, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun.

Setelah mengaduk-aduk adonan cincau hitam itu hingga mendidih dan mengental. Jaenuri kemudian menuangnya secara perlahan di ember-ember yang telah disediakan. Karena adonan cincau hitam sangat panas, ia terlihat berhati-hati dalam menuangkannya ke wadah.

Di ruang produksi yang masih tradisional itu, Jaenuri bersama Sumar dan Parlan mengolah daun janggelan itu menjadi cincau hitam yang kenyal dan lembut. Terlihat tumpukan kayu bakar yang memenuhi sebagian ruangan.

Ada dua tungku besar dengan di atasnya terdapat tiga drum besi di setiap tungkunya. Bara api terlihat menyala-nyala dan terus membakar drum berisi adonan cincau hitam. Puluhan ember berisi cincau hitam terlihat memenuhi ruang produksi. Ember-ember itu ditata rapi di rak yang menjadi tempat pendinginan.

Foto: Pekerja mengolah cincau hitam di rumah produksi Desa Jatisari, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Senin (21/5/2018). (Madiunpos.com-Abdul jalil)

Pada saat Ramadan seperti sekarang, permintaan cincau hitam naik berkali-kali lipat. Sehingga, pusat produksi cincau hitam di Jatisari ini hampir sepanjang hari berproduksi. Aktivitas mereka sudah terlihat pada saat pagi hari sampai malam hari.

"Saat Ramadan ini memang ada kenaikan yang cukup banyak," kata pemilik rumah produksi cincau hitam di RT 018/RW 004, Desa Jatisari itu, Kasih, 60, saat ditemui Madiunpos.com, Senin (21/5/2018).

Makanan Buka Puasa

Dia menuturkan sejak awal Ramadan permintaan cincau hitam per harinya bisa mencapai 30 drum. Padahal pada hari biasa, produksi cincau hitam hanya 3 sampai 5 drum saja. Permintaan cincau hitam ini sangat tinggi saat Ramadan karena banyak masyarakat yang membutuhkannya untuk kebutuhan makanan berbuka puasa, seperti kolak dan aneka es.

Kasih menceritakan proses produksi cincau hitam ini sangat sederhana. Pertama, daun janggelan yang sudah dikeringkan harus direbus hingga matang. Kemudian diambil sarinya dengan disaring penyaring khusus. Setelah itu, air sari janggelan itu masuk ke drum kedua yaitu proses penambahan tepung terigu.

Sari janggelan dan tepung terigu itu telah bercampur, barulah dipindah ke drum ketiga yang diberi obat pengental. Kemudian adonan itu diaduk sampai benar-benar matang. Setelah matang, baru adonan itu dipindah ke ember-ember yang disediakan. Yang terakhir yaitu adonan didinginkan sampai mengeras dan sudah bisa dikonsumsi.

"Daun janggelan ini diambil dari Ponorogo dan Pacitan. Di Madiun sini tidak bisa tumbuh, karena janggelan hanya tumbuh di daerah tinggi. Per kilogram janggelan yaitu Rp25.000," jelas dia sambil menyebut usaha ini merupakan turun temurun dari orang tuanya puluhan tahun silam.

Meski tidak menggunakan bahan pengawet, cincau hitam ini mampu bertahan hingga lima hari dengan suhu normal. Biasanya yang membeli cincau hitam buatannya yaitu pedagang dari Ponorogo, Madiun, dan Kota Madiun.

Kasih mengatakan Ramadan memang menjadi waktu yang sangat baik untuk menjual cincau hitam. Hal ini karena kebutuhan masyarakat terhadap makanan ini meningkat.

"Saya tidak hanya menjual ke pedagang saja. Pembeli eceran juga saya layani," ujar nenek yang sudah memiliki empat cucu ini.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya