Air Waduk Pacal Bojonegoro Tak Cukup untuk Mengairi Sawah

Situasi Waduk Pacal di Bojonegoro. (Antara/Slamet Agus Sudarmojo)
15 Mei 2018 21:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, BOJONEGORO -- Volume air Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Bojonegoro, Jawa Timur, di awal musim kemarau mulai kritis karena  tersisa sekitar 11,5 juta meter kubik. Stok air sebesar itu masih kurang untuk mengairi tanaman padi di sepanjang daerah irigasinya.

Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum (PU) SDA Bojonegoro, Suparlan, di Bojonegoro, Senin (14/5/2018), menjelaskan stok air Waduk Pacal sebesar 11,5 juta meter kubik dengan ketinggian air pada papan duga mencapai 111,35 meter per 14 Mei 2018.

Tokopedia

"Sebelum itu, air Waduk Pacal dikeluarkan berkisar 5-6 meter kubik per detik sejak 25 April sampai 10 Mei 2018," ungkap dia. Suparlan menambahkan pintu pengeluaran air Waduk Pacal ditutup sejak 10 Mei 2018.

Padahal, kata dia, di sepanjang daerah irigasi Waduk Pacal di sejumlah kecamatan terdapat tanaman padi sesuai data sawah baku seluas 16.623 hektare.

Suparlan menjelaskan di wilayah timur, antara lain di Kecamatan Kepohbaru dan Baureno, tanaman padi rata-rata berusia 55-65 hari, sehingga masih membutuhkan pasokan air Waduk Pacal Bojonegoro sekali.

Di wilayah atas seperti di sejumlah desa di Kecamatan Sukosewu dan Kapas, rata-rata tanaman padi berusia 35-45 hari dan masih membutuhkan pasokan air Waduk Pacal dua kali.

Begitu pula wilayah bawah di Desa Sukowati dan Bakalan, Kecamatan Kapas, terdapat tanaman padi seluas 367 hektare yang usianya masih sebulan membutuhkan pasokan air Waduk Pacal dua kali.

"Kalau hanya mengandalkan air Waduk Pacal tidak akan mencukupi kecuali di kawasan setempat turun hujan sehingga kebutuhan air bisa tercukupi dari air hujan," kata dia.

Menurut Suparlan ketika air Waduk Pacal dikeluarkan, banyak pompa air liar yang mengambil air langsung dari daerah irigasinya juga untuk mengairi tanaman padi.

Pengambilan air melalui pompa air secara liar dilakukan petani di sepanjang daerah irigasinya, antara lain di sejumlah desa di Kecamatan Sukosewu, dan Kapas.

"Ratusan pompa air mengambil air langsung dari saluran irigasi untuk mengairi tanaman padi yang tidak masuk daerah irigasi Waduk Pacal," ujarnya.

Ia mengaku petugas tidak bisa mencegah para petani yang mengambil air Waduk Pacal dengan memanfaatkan pompa air di sepanjang saluran irigasinya.

"Petani mengambil air dengan pompa air juga untuk tanaman padinya. Setelah selesai mengambil air petani langsung membongkar mesin pompanya," ucapnya.

Suparlan mengaku pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas PU dan SDA di kecamatan termasuk Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) beberapa waktu lalu terkait ketersediaan air di Waduk Pacal untuk tanaman padi musim tanam (MT) II kemarau.

"Semoga saja tanaman padi MT II bisa memperoleh air hujan, selain pasokan air waduk," ucapnya.

Sumber : Antara