Pantang Mengemis, Mbah Prenjak Setia Jualan Obat Nyamuk di Trotoar Madiun

Nenek Warti atau Mbah Prenjak menunggu dagangan di trotoar Jl. Trunojoyo, Kota Madiun, Kamis (19/4 - 2018). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
20 April 2018 19:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Di usia yang sudah senja, Warti atau yang kerap disapa Mbah Prenjak, terus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semangatnya dalam menjemput rizki patut menjadi kisah inspiratif bagi siapapun.

Bukan barang kebutuhan pokok maupun barang yang memiliki nilai tinggi yang dijual Mbah Prenjak. Dia hanya menjual obat nyamuk bakar dengan harga Rp7.000 per bungkus. Tempat jualannya pun bukan di toko maupun tempat lain yang layak untuk berjualan, melainkan di trotoar pusat pertokoan di Jl. Trunojoyo, Kota Madiun.

Lantaran berjualan di trotoar, Mbah Prenjak hanya bisa berjualan pada malam hari saja. Wanita yang tinggal sebatang kara di Jl. Ciliwung, gang IV, Taman, Kota Madiun, itu berangkat berjualan sehabis Magrib hingga dini hari.

Udara dingin menusuk kulit di setiap malam menjadi makanan hariannya. Ia pun sudah kebal dengan kedinginan malam di jalanan protokol Kota Madiun itu. Saat hujan mengguyur, nenek berusia 80 tahun itu harus mencari tempat untuk berteduh dan memakai jaket supaya badannya tetap hangat.

Di trotoar Jl. Trunojoyo No. 159 Kota Madiun, Mbah Prenjak terlihat menggelar barang dagangannya di etalase yang terbuat dari bambu dan seng. Lampu teplok yang menyala di atas ember bekas cat remang-remang menyinari wajah Mbah Prenjak, Kamis (19/4/2018), sekitar pukul 23.00 WIB.

Perempuan lanjut usia itu terlihat terkantuk-kantuk saat menanti orang membeli obat nyamuk bakar malam itu. Beberapa kardus bekas pembungkus obat nyamuk bakar disusun rapi di sebuah etalase sederhana.

Di samping tubuh nenek itu terdapat mangkuk plastik, botol berisi air minum, nasi bungkus, dan tiga payung. Dia bercerita sudah berjualan di pinggir jalan sejak kecil. Namun, ia tidak ingat persis mulai usia berapa berjualan. "Mpun kawit kula tasih alit," kata nenek yang mengaku berasal dari Balong, Ponorogo.

Mbah Prenjak mengenang saat masih muda berjualan mainan anak-anak pada siang hari. Tetapi, seiring perkembangan zaman, mainan itu sudah tidak laku lagi. Hingga akhirnya ia memilih berjualan obat nyamuk, rokok, dan korek di pinggir jalan.

"Saya berjualan setiap hari. Saya kalau berangkat naik becak. Sekali berangkat Rp10.000. Kalau pulang pergi berarti Rp20.000," ujar dia.

Mbah Prenjak mengaku tidak mengetahui berapa penghasilannya setiap hari dari berjualan obat nyamuk.

Lebih lanjut, Mbah Prenjak bercerita hanya memajang kardus kemasan obat nyamuk karena untuk mengantisipasi kemalingan. Dia mengeluarkan obat nyamuknya saat ada yang serius ingin membelinya.

Dia mengaku barang dagangannya itu pernah dicuri orang yang awalnya berpura-pura menjadi pembeli. "Kalau dikeluarkan semua takut dibawa kabur orang," ujar dia.

Mbah Prenjak menebarkan kisah inspiratif dengan terus berjualan meski dengan tertatih karena untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia sadar hidup sebatang kara sehingga perlu kemandirian untuk bertahan. Warti juga lebih suka berjualan dibandingkan meminta-minta atau mengemis.

Meski demikian, banyak orang yang terketuk hati dengan membantunya. Terkadang ada orang yang memberi makanan dan terkadang juga sejumlah uang.

Saat mendapat banyak makanan, ia membagi-bagikannya kepada tetangga. "Kadang dapat banyak makanan saya bagikan. Kalau dibawa pulang juga tidak bisa dimakan," ujar dia.

Kondisi yang semakin renta dan setiap hari harus berjualan pada malam hari, membuat kondisi Mbah Prenjak semakin menurun. Ia berharap terus diberi kesehatan sehingga bisa berjualan. 

 

Tokopedia