Ratusan Petani Jeruk Pamelo di Magetan Sempat Gagal Panen

Ketua Kelompok Tani Bangun Tani Buah Pamelo, Sarni, menunjukkan jeruk pamelo matang di Desa Duwet, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Rabu (18/4/2018) - Madiunpos.com/Abdul Jalil
20 April 2018 03:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MAGETAN -- Ratusan petani jeruk pamelo  di Desa Duwet, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, sempat mengalami gagal panen pada 2016. Akibatnya, petani mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Ketua Kelompok Tani Bangun Tani Buah Pamelo di Desa Duwet, Sarni, 50, mengatakan salah satu penyebab kegagalan panen buah jeruk pamelo ini karena cuaca. Pada 2016, hampir seluruh petani jeruk pamelo di desanya mengalami kerugian karena gagal panen.

Salah satu faktor yang menyebabkan gagal panen yaitu karena pada 2016 tidak ada musim kemarau sehingga hujan  hampir turun selama satu tahun. Kondisi ini membuat pohon pamelo tidak bisa berbuah secara sempurna dan akhirnya buah yang tumbuh rusak.

"Pohon pamelo ini tidak bisa tumbuh di daerah yang kebanyakan air. Jadi lokasinya memang harus kering. Kalau ada hujan terus, biasanya gagal panen," ujar dia saat berbincang dengan Madiunpos.com, Rabu (18/4/2018).

Sarni menyampaikan pohon pamelo bisa tumbuh subur di wilayah Duwet karena kondisi tanah yang mendukung. Menurut dia, tanah yang cocok untuk pertumbuhan pohon pamelo yaitu tanah kering dan berpasir.

"Di Duwet sini air tanahnya di kedalaman 40 meter baru keluar air. Daerah sini memang benar-benar kering," jelas dia.

Pria yang juga perangkat Desa Duwet itu juga menyampaikan hasil panen tahun ini diperkirakan cukup baik dan akan maksimal. Hal ini karena kondisi cuaca  yang mendukung sehingga perkembangan buah bisa maksimal. "Kalau panennya bagus ya satu pohon bisa 20 sampai 40 buah," ujar dia.

Pemilik kebun buah pamelo Desa Duwet, Sri Suparji, mengatakan saat ini hama yang paling banyak menyerang pohon pamelo yaitu lalat buah, jamur kayu, dan penggerek batang. Tahun ini, ada sejumlah pohon yang mati akibat diserang jamur kayu.

Setelah diserang jamur biasanya pohon tersebut secara berlahan akan menjadi kering dan mati. Sedangkan lalat buah biasanya menyerang di bagian buah dan meninggalkan telur di dalam buah. Akibatnya telur itu akan menjadi ulat yang merusak buah.

"Untuk mengantisipasi serangan lalat buah. Kami membungkus buah dengan plastik. Sedangkan untuk serangan jamur kayu, itu sulit untuk dikendalikan. Tahu-tahu pohon sudah mati," ujar dia.

Sri menyampaikan tahun lalu hasil panen cukup bagus. Sedangkan 2016, dia mengaku mengalami gagal panen sehingga dari empat hektare lahan hanya menghasilkan uang senilai Rp1 juta. Padahal untuk biaya perawatan bisa mencapai belasan juta rupiah.