Begini Cara Pemkab Ngawi Kejar Surplus Beras 693.000 Ton Setahun

Ilustrasi area persawahan - Bisnis/Nurul Hidayat
18 April 2018 15:05 WIB Choirul Anam Madiun Share :

Madiunpos.com, NGAWI — Sektor pertanian di Kabupaten Ngawi terus dipacu untuk mengejar target surplus beras sebanyak 693.000 ton pada tahun 2018 ini. Pemerintah Kabupaten (Ngawi) pun menggiatkan pola intensifikasi dan ekstensifikasi tanam.

Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi M. Sodiq Tri mengatakan tahun ini produksi padi asal daerah ini diproyeksikan mencapai 800.000 ton, sedangkan tahun lalu mencapai 600.000 ton. “Kebutuhan konsumsi kami hanya mencapai 125.000 ton sehingga ada surplus beras sebanyak 693.000 ton,” kata dia di Ngawi, Selasa (17/4/2018).

Dia menerangkan luas tanam padi di Ngawi mencapai 136.000 hektare, sedangkan luas areal sawah sekitar 50.000 hektare. Untuk mencapai target surplus yang diharapkan, produktifitas lahan sawah di Ngawi ini dipacu menjadi 7-8 ton/hektare atau meningkat ketimbang tahun lalu yang hanya 6 ton/hektare.

“Realisasi panen sampai pertengahan April, sudah menunjukkan on the track, sudah mencapai sepertiga dari target,” kata Sodiq.

Sekda Ngawi mengakui tantangan dalam upaya menjaga produksi padi yang tinggi terkait dengan adanya alih fungsi terhadap lahan pertanian. Misalnya penggunaan lahan pertanian untuk tol sepanjang 42 km dengan lebar 60 meter sehingga lahan pertanian yang terkena mencapai 288 hektare.

Namun di sisi lain, Pemkab Ngawi telah berusaha mencetak sawah baru. Intinya, lahan-lahan pekarangan yang kosong idealnya ditanami padi.

Dia menambahkan lahan Perhutani yang bisa dimanfaatkan warga lewat program kemitraan juga diharapkan ditanami padi. Lahan-lahan tersebut diharapkan bisa menyumbang produksi padi, walupun sistem pengairannya masih tadah hujan.

Ada 12.000 hektare lahan Perhutani yang dikerjasamakan dengan masyarakat berpotensi untuk ditanami padi dengan sistem tadah hujan.

Untuk lahan persawahan teknis, cakupan pelayanan irigasi mencapai 42.230 hektare lahan. Untuk menjaga keandalan pasokan air ke sawah-sawah, Pemkab Ngawi membangun embung-embung baru.

Sampai saat ini ada enam embung yang sudah terbangun dan mampu mengairi sawah seluas 15.000 hektare. “Kontribusi pada produksi beras Ngawi secara regional dan nasional sangat signifikan,” ucapnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Djoko Raharto mengatakan masalah pertanian padi, selain aspek produksi, yang juga harus dipikirkan aspek nilai tambahnya.

Dengan begitu, maka kesejahteraan petani bisa meningkat. Salah satu kebijakan yang dilakukan BI Kediri, mendorong budi daya padi organic seperti di Ngawi dengan memberikan bantuan-bantuan pelatihan dan peralatan produksi kepada petani.

Bahkan di Ngawi, usaha budi daya padi organik bisa berkembang dengan luasan lahan mencapai 28 hektare. Petani juga mampu memberikan nilai tambah usaha pertanian padi tersebut dengan menangani juga aspek hilirnya, pengepakan hingga pemasarannya.

Karena itulah, BI Kediri-Pemkab Ngawi-Komunitas Ngawi Organic Centre mendirikan dan mengembangkan Pusat Pelatihan Budi Daya Padi Organic dari Hulu-Hilir Nasional.

Budi daya padi organik mempunyai nilai tambah bagi petani karena biaya produksinya lebih murah, namun harga jual lebih tinggi daripada padi maupun beras anorganik.

Di sisi lain, produksi padi organik dan anorganik per hektarenya tidak terlalu berbeda. Seperti di Ngawi, produksi padi organik sudah mencapai 6 ton/hektare, hampir sama dengan produksi padi di lahan pertanian anorganik. 

Tokopedia