2.000 Ha Lahan di Ngawi Siap Dipakai Kawasan Industri Tapi...

Ilustrasi kawasan industri - Bisnis
17 April 2018 21:05 WIB Choirul Anam Madiun Share :

Madiunpos.com, NGAWI — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, Jawa Timur, menawarkan 2.000 hektare lahan kepada inivestor untuk dibangun kawasan industri terkait dengan telah dibangunnya tol dan akan dibangunnya Bandara Kediri.

Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi M. Sodiq Tri mengatakan untuk percepatan pembangunan kawasan industri di daerah tersebut maka akan dibangun akses jalan lingkar utara (JLU), sedangkan jalan lingkar selatan sudah tuntas dibangun.

“FS [feasibility study] dan DED [detail engineered design]-nya sudah rampung,” katanya di Ngawi, Selasa (17/4/2018).

Sodiq mengaku tidak hafal berapa biaya pembangunan JLU sepanjang 15 km itu. Yang jelas, dua jembatan yang masuk trace jalan tersebut telah rampung dibangun. Dia menandaskan kebutuhan pembangunan JLU tidak kecil. Selain untuk pembangunan konstruksi, dana juga diperlukan untuk pembebasan lahan.

Karena keterbatasan volume APBD Kab. Ngawi yang hanya mencapai Rp2 triliun di 2018, kata dia, pembiayaan proyek JLU itu akan diajukan ke pemerintah pusat maupun Pemprov Jatim. Dia menambahkan pembiayaan pembangunan JLU Ngawi bisa ditanggung pemerintah pusat maupun Pemprov Jatim atau dilakukan secara sharing.

Terkait kawasan industri, dia mengakui, kepemilikan lahan masih dikuasai masyarakat. Idealnya, lahan tersebut bisa dikuasai pemda. “Tapi APBD kami tidak mampu untuk digunakan membeli tanah warga yang diperuntukkan kawasan industri,” ujarnya.

Karena itulah, pembangunan maupun pembebasan untuk kawasan industri nantinya diserahkan ke swasta. Pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan calon investor, seperti PT Jababeka, untuk bersedia membangun kawasan industri di Ngawi.

“Yang bisa kami berikan, aspek kemudahan regulasi. Itu sebagai insentif bagi investor yang tertarik membangun kawasan industri,” kata Sodiq.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Djoko Raharto menegaskan sudah semestinya pemda-pemda di wilayah eks-Karesidenan Kediri dan Madiun merespons positif perkembangan kawasan yang ditandai dengan berbagai pembangunan infrastrutkur seperti jalan tol dan bandara dengan berlomba-lomba untuk mendatangkan investor agar dapat memacu perkembangan ekonomi di daerahnya masing-masing.

Apa yang dilakukan Pemkab Ngawi, kata Djoko, sangat tepat karena berarti responsif terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya, yakni pembangunan infrastruktur tol.

“Jika tidak responsif, maka daerah yang dilewati tol serta dekat dengan bandara hanya dilewati investor. Hanya menjadi penonton. Investasi menjadi tidak masuk karena dianggap kurang menarik oleh investor,” ujarnya.

Tokopedia