Jatim Diguncang 557 Kali Gempa Bumi Selama 2017

25 Desember 2017 23:05 WIB Redaksi Solopos Madiun Share :

Selama 2017 wilayah Jawa Timur diguncang 577 kali gempa bumi.

Madiunpos.com, JEMBER -- Wilayah Jawa Timur diguncang gempa bumi hingga 577 kali sepanjang 2017. Delapan gempa di antaranya dirasakan atau berdampak bagi masyarakat.

Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangkates Malang, Musripan, menyampaikan hal tersebut melalui surat elektronik yang diterima Antara di Jember, Jatim, Senin (25/12/2017).

"Tahun ini terekam sebanyak 557 gempa bumi dan delapan kali gempa yang dirasakan oleh masyarakat di beberapa daerah di Jatim," kata dia.

Sedangkan jumlah gempa bumi yang tercatat di BMKG Karangkates pada 2016 ada 566 kali, namun yang dirasakan atau berdampak di masyarakat Jatim ada 15 kali.

"Selama 2016, gempa terbanyak terjadi pada Februari sebanyak 117 kali, sedangkan pada Januari tercatat 39 kali, Maret dan April masing-masing 43 kali, Mei 32 kali, Juni 37 kali, Juli 50 kali, Agustus 41 kali, September 45 kali, Oktober 36 kali, November 35 kali, dan Desember 48 kali," tuturnya.

Ia mengatakan jumlah gempa bumi pada 2017 cenderung menurun dibandingkan 2016 baik jumlah gempa secara keseluruhan maupun gempa yang berdampak atau dirasakan masyarakat di Jawa Timur.

Pembangkit gempa bumi ditinjau dari kedalaman hiposenternya rata-rata merupakan gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lempeng yakni dalam hal ini sesar/lempeng Indo Australia menyusup ke bawah lempeng Eurasia dan terjadi deformasi batuan hingga memicu terjadinya gempa bumi.

"Jenis gempa bumi rata-rata yang terjadi selama tahun 2017 adalah gempa bumi dangkal dan lokal di Jawa Timur," katanya.

Musripan mengimbau masyarakat tidak panik dan tidak mudah percaya adanya kabar atau isu gempa yang akan terjadi di berbagai daerah karena gempa bumi tersebut tidak dapat diprediksi.

"Jangan mudah percaya dengan isu prediksi gempa yang sumbernya tidak jelas seperti yang terjadi beberapa waktu lalu menyebar melalui media sosial dan pesan berantai melalui Whatsapp itu menyebabkan keresahan masyarakat," ujarnya.

Hingga kini, lanjut dia, gempa bumi tektonik belum bisa diprediksi secara ilmiah dengan baik sehingga BMKG akan mengeluarkan pers release terjadinya gempa bumi, setelah gempa bumi tersebut terjadi.

"Informasi tentang terjadinya gempa bumi biasanya akan kami teruskan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah [BPBD] setempat untuk ditindaklanjuti sehingga masyarakat sebaiknya meminta informasi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dan tidak mempercayai kabar burung yang tidak jelas sumbernya itu," katanya.

 

Tokopedia