Harapan Para TKI dalam Peringatan Hari Buruh Migran Internasional

Ratusan buruh migran dari berbagai daerah mengikuti peringatan Hari Buruh Migran Internasional yang dipusatkan di Ponorogo, Senin (18/12/2017). (Abdul Jalil/JIBI - Madiunpos.com)
18 Desember 2017 21:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Berbagai harapan untuk perbaikan disampaikan oleh TKI pada peringatan Hari Buruh Migran Internasional.

Madiunpos.com, PONOROGO -- Peringatan Hari Buruh Migran Internasional yang dipusatkan di Ponorogo, Senin (18/12/2017), dihadiri ratusan buruh migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI). Para buruh itu menyampaikan berbagai harapan pada acara yang juga dihadiri Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri itu.

Para buruh migran berharap ada perbaikan dan perubahan yang bisa melindungi mereka baik saat di luar negeri maupun saat sudah kembali ke Tanah Air.

Para buruh yang bekerja di luar negeri itu dijuluki pahlawan devisa karena sumbangsih mereka terhadap pemasukan negara cukup besar. Namun, kesejahteraan dan keselamatan mereka selama menjadi buruh migran menjadi taruhan. (Baca: http://solopos.com/?p=877900">7 Mobil Iring-Iringan Menaker Saling Bertubrukan karena Ngerem Mendadak)

Misnati, 33, salah satu TKW asal Siman, Ponorogo, yang hadir dalam peringatan itu, bercerita telah lima kali berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Dia pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di Singapura, Taiwan, Hongkong, dan kini akan berangkat lagi ke Hongkong.

Berdasarkan pengalamannya menjadi buruh migran di beberapa negara, Misnati menilai butuh perbaikan dalam proses rekrutmen dan pemberangkatan tenaga kerja. Pemerintah juga wajib hadir untuk mengontrol dan mengatur PJTKI nakal.

Dia menuturkan selama ini ada PJTKI kerap memberikan informasi palsu kepada calon TKI. "Memberi pekerjaan yang tidak sesuai itu contohnya kami ditawari bekerja merawat seorang lansia. Tetapi ternyata di sana kami disuruh merawat anjing, bayi, dan lainnya. Selain itu, ada yang gajinya tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Itu pengalaman saya," jelas dia.

Ibu satu anak ini menuturkan pemerintah juga harus memberikan perlindungan selama warganya bekerja di luar negeri. Hal ini supaya para TKI bisa tenang dan fokus bekerja selama di luar negeri dan tidak takut terkait persoalan keselamatan jiwa.

Menurut dia, menjadi seorang buruh migran adalah sebuah pilihan. Buruh migran menjadi jalan untuk mencapai kesejahteraan.

Hasil bekerja di luar negeri membuatnya mampu membeli sepetak tanah dan membangun rumah. Selain itu perekonomian keluarganya semakin terangkat.

"Buat nyekolahin anak, nyekolahin adik, dan membantu perekonomian keluarga," ujar dia.

Seorang calon TKW, Riwayati, 28, berharap pemerintah semakin mempermudah warganya yang hendak bekerja ke luar negeri. Selain itu kepastian hukum dan kepastian keselamatan juga menjadi harapannya.

"Saya hanya berharap selama bekerja di luar negeri bisa tenang. Uang hasil kerja juga bisa sampai ke keluarga," ujar perempuan asal Blitar yang akan bekerja di Hongkong itu.

Seorang mantan TKW asal Siman, Ponorogo, Murdaningsih, berharap pemerintah lebih memerhatikan TKI setelah pulang dari luar negeri. Pemerintah harus memberikan pelatihan dan keterampilan kepada mantan buruh migran yang telah kembali ke Tanah Air.

Menurut dia, pelatihan keterampilan ini penting supaya buruh migran bisa mandiri sepulangnya dari luar negeri dan memanfaatkan uang hasil kerja mereka sebagai modal usaha, hanya untuk kebutuhan konsumtif belaka.

"Selama ini kan banyak buruh migran yang pulang dari luar negeri uangnya habis untuk membeli kebutuhan yang kurang penting. Padahal kalau uang itu dijadikan modal usaha, mungkin mereka tidak perlu lagi kembali bekerja ke luar negeri," terang dia.

Sementara itu, Menaker Hanif Dhakiri menuturkan 18 Desember ditetapkan sebagai Huruh Migran Internasional karena merupakan hari bersejarah PBB mengadopsi resolusi Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya.

"Tanggal tersebut merupakan tonggak kesepakatan perlindungan terhadap pekerja migran dan keluarganya," kata dia.

Hanif meminta masyarakat yang hendak bekerja ke luar negeri untuk mempersiapkan diri secara matang. Jangan sampai pergi ke luar negeri dalan kondisi belum siap.

Dia meminta kepada masyarakat yang hendak jadi TKI untuk berangkat melalui jalur resmi atau legal. "Berangkat menggunakan jalur ilegal hanya menyulitkan diri sendiri," jelas dia.

Lebih lanjut, Hanif meminta pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dalam proses pemberangkatan calon TKI. Peringatan Hari Buruh Migran Internasional di Ponorogo diikuti seribuan calon buruh migran dan mantan buruh migran dari berbagai daerah. Ponorogo merupakan salah satu kantong terbesar TKI di wilayah Jawa Timur.

Tokopedia