Yatim Piatu, Bocah Tulungagung Bekerja di Penggilingan Padi Demi Bantu Nenek

David Ashari (kanan) bersama neneknya Supiyem menonton televisi pemberian seorang dermawan di rumahnya di Desa Jeli, Tulungagung, Selasa (21/11/2017). (Antara - Destyan Sujarwoko)
22 November 2017 17:05 WIB Redaksi Solopos Madiun Share :

Kisah bocah Tulungagung David Ashari memantik simpati dari banyak pihak.

Madiunpos.com, TULUNGAGUNG -- David Ashari, 11, pelajar SD Negeri 1 Jeli, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, bekerja di luar kesibukannya bersekolah demi membantu neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sehari-hari, bocah lelaki kelas IV SD itu mencari nafkah sebagai pembantu giling padi.

David Ashari saat dijumpai di rumahnya di Desa Jeli, Tulungagung, Selasa (21/11/2017), mengakui pekerjaan serabutan itu awalnya dia lakukan untuk membantu membelikan satu unit kompor gas dan televisi untuk sang nenek yang kini sudah berusia 74 tahun.

"Uangnya untuk nenek," kata David dengan nada pelan. David yang barus saja pulang dari sekolah tampak tidak banyak bicara. Saat diajak berbincang oleh wartawan, David menjawab dengan kalimat pendek-pendek.

David mengaku menjalani aktivitas itu dengan kesadaran sendiri, yang dikerjakan sepulang dari sekolah dan mengaji diniyah mulai sekitar pukul 13.00 WIB hingga 16.00 WIB.

"Kerjanya hanya membantu memasukkan padi ke penggilingan," tutur David Ashari dengan wajah datar.

Sang Nenek, Supiyem, 72, mengatakan aktivitas David yang bekerja serabutan secara paruh waktu dilakoni sudah dua tahunan terakhir. Awalnya, David yang sudah tidak memiliki orang tua itu bermain di penggilingan padi milik sahabat kakeknya.

"Mungkin karena tahu David ini sebatang kara dan tidak ada yang mengasuh lalu dia ditawari untuk membantu bekerja di penggilingan oleh Pak Nur, pemilik penggilingan padi itu," kata Supiyem bertutur.

David bercerita sehabis pulang sekolah dia selalu datang ke tempat penggilingan gabah milik Pak Nur yang berada di Dusun Denok Desa Jeli Kecamatan Karangrejo, yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumahnya.

Di tempat tersebut, David sekadar membantu menggiling gabah dan juga menyapu. Dari jerih payahnya tersebut, dia mendapatkan uang saku mulai Rp5.000 hingga Rp25.000. "Ya tidak tentu dapatnya berapa, dan uangnya saya kasihkan kepada nenek untuk keperluan di dapur," katanya.

David memiliki keinginan untuk membelikan neneknya sebuah kompor gas dan televisi. Sebab, setiap hari ketika neneknya hendak memasak hanya dengan tungku dan kayu bakar.

Cerita tentang kehidupan David yang hidup dengan neneknya, sempat viral di kalangan media sosial. Dari situlah mulai bermunculan bantuan dari berbagai masyarakat. Secara bersamaan datang seorang warga yang memberikan bantuan kompor gas dan televisi.

Kepala SDN 1 Jeli Tutik Rahayu membenarkan kondisi David yang yatim piatu dan bekerja serabutan. "Ketiadaan orang tua sebagai pengasuh untuk anak membuat David menjadi kurang kasih sayang juga perhatian. Prestasinya, boleh dibilang kurang bagus. Itu dampak psikologis hidupnya yang 'sebatang kara'," kata Tutik.