KISAH INSPIRATIF : Gaji Rp4,6 Juta/Bulan, Anggota Brimob Madiun Banting Tulang Hidupi 15 Anak Asuh

Brigadir Rochmat Tri Marwoto berfoto bersama anak asuh di rumahnya RT 001/RW 001, Dusun Jati, Desa Klagenserut, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Selasa (21/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI - Madiunpos.com)
21 November 2017 19:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Kisah inspiratif, seorang polisi di Kabupaten Madiun mendapatkan penghargaan dari Kapolda Jatim karena karya sosialnya.


Madiunpos.com, MADIUN -- Seorang pria paruh baya berbadan tegap berseragam berwarna biru dongker khas seragam satuan Brimob terlihat mondar mandir di halaman rumah yang beralamat di RT 001/RW 001, Dusun Jati, Desa Klagenserut, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Selasa (21/11/2017) pagi. Sesekali pria itu bercanda dengan anak-anak yang duduk di kursi halaman rumah itu.

Pria itu bernama Rochmat Tri Marwoto, bertugas di Detasemen C Pelopor Satuan Brimob Polda Jawa Timur dengan pangkat Brigadir. Rochmat menerima penghargaan dari Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin atas karya sosial yang sepuluh tahun diabdikannya.


Lima belas anak-anak dan remaja yang duduk di kursi di halaman rumah merupakan anak asuh Rochmat. Mereka merupakan anak kurang mampu, anak jalanan, anak yatim, dan anak dari keluarga broken home. Anak-anak itu dibawa Rochmat ke rumahnya dan ditanggung biaya hidup mereka.


Penyerahan sertifikat penghargaan secara langsung diberikan Kapolda Jatim di halaman rumah Rochmat. Upacara pemberian penghargaan itu berlangsung secara khidmat diwarnai tepuk tangan dari puluhan anggota Polri yang hadir.


Kisah Rochmat membiayai dan mengurus kebutuhan anak asuhnya bermula tahun 2007. Saat itu, dia dan istrinya Helmiyah, 38, merawat beberapa anak kurang mampu. Anak-anak itu kemudian bertempat tinggal di rumah mereka dan disekolahkan.


Tahun demi tahun, Rochmat terus mencari anak-anak yang kurang mampu untuk disekolahkan. Seluruh biaya hidup dan pendidikan ditanggungnya secara penuh dan tanpa syarat apa pun.


Hingga tahun ini, Rochmat telah memiliki anak asuh sebanyak 64 orang. Lima belas anak di antaranya masih menjadi anak asuh dan bersekolah. Sedangkan lainnya sudah lulus sekolah dan kerja. Ada anak asuhnya menjadi polisi dan saat ini berdinas di luar Jawa.


Kelima belas anak asuhnya itu terdiri dari satu anak di TK, satu anak di SMP, tujuh anak duduk di bangku SMA, dan enam anak kuliah di STAIM Magetan.


Rochmat mengatakan anak-anak itu tidur dan belajar di rumah yang sama yang digunakan anaknya yaitu di Dusun Jati. Rumah yang memiliki tiga kamar ini dihuni anak-anak itu. (baca: http://solopos.com/?p=870637" target="_blank">Salut! Anggota Brimob Madiun Hidupi dan Sekolahkan 64 Anak Asuh)


"Saya sama suami tidur di kamar. Terus yang dua kamar digunakan untuk bareng-bareng, khususnya yang perempuan. Sedangkan yang laki-laki tidur di luar kamar ada juga yang tidur di rumah di Kecamatan Kare," jelas Helmiyah.


Suasana rumah memang didesain seperti rumah sendiri sehingga anak-anak asuh berasa hidup di rumahnya sendiri. Makanan dan minuman yang dimakan di rumah tersebut sama dan tidak ada yang berbeda.


"Kami tidak membuat sistem seperti di pondok pesantren maupun asrama. Kami membuat rumah itu seperti rumah mereka dan untuk belajar pun seperti belajar di rumah," kata Rochmat.


Toko Sembako


Mengenai biaya untuk menghidupi seluruh anak asuh dan keluarganya, Rochmat bercerita semua kebutuhan dipenuhi dengan hasil kerja kerasnya. Dia sadar dengan gaji sebagai anggota Polri senilai Rp4,6 juta per bulan tidak akan cukup. Untuk itu, Rochmat mencoba peruntungan lain dengan membuka toko sembako dan konter pulsa di depan rumahnya.


Usaha tersebut semakin lancar dan berkembang hingga akhirnya membeli sepetak tanah di pegunungan Wilis di Kecamatan Kare. Tanah tersebut kini ditanami pohon durian dan cukup produktif. Selain itu, tanah sepetak di kawasan Sarangan juga mampu dibeli dan digunakan untuk perkebunan.


Dari hasil berbisnis dan berkebun itu yang selama ini menggerakkan roda perekonomian keluarganya. Biaya makan dan uang saku yang mencapai Rp8 juta per bulan mampu dipenuhi Rochmat.


Dia mengakui saat yang paling sulit yaitu pada waktu pembayaran uang semesteran anak asuh yang kuliah. Meski sulit, Rochmat memastikan uang kuliah anak-anaknya tidak pernah telat dibayarkan.


Untuk persoalan pengelolaan dan pendidikan anak di rumah, Rochmat mengatakan itu menjadi tanggungjawab istrinya. "Untuk persoalan rumah tangga dan mendidik anak di rumah itu saya serahkan ke istri," jelas dia.


Helmiyah menambahkan selain belajar formal di sekolah, anak-anak itu juga dilatih berwirausaha di rumah. Ada yang ditugasi menjaga toko, berkebun, dan ada pula yang dilatih menjahit.


Dia mengakui suaminya bekerja tanpa kenal lelah untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga itu. Selepas pulang dinas sekitar pukul 3 sore, suaminya langsung ke toko dan kebun untuk membersihkan maupun mengontrol kondisi toko.


Setiap hari, kata Perempuan asal Depok ini, suaminya hanya tidur rata-rata empat sampai lima jam. Selebihnya untuk bekerja dan pada malam hari membantu membimbing anak-anak untuk belajar.


Dia berharap ke depan anak-anak tersebut dapat mendapat pelatihan-pelatihan usaha produktif. Sehingga setelah lulus dari sekolah bisa mandiri.