KISAH INSPIRATIF : Pria Ini Mampu Beli Rumah dan Kuliahkan Anak Berkat Ban Bekas

Abu Khaer, 62, membuat bak sampah yang terbuat dari ban bekas di rumah produksinya di Kelurahan Keniten, Ponorogo, Minggu (12/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI - Madiunpos.com)
20 November 2017 11:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Kisah inspiratif, dengan bermodalkan kenekatan dan keuletan Abu Khaer mampu bertahan hidup dengan ban bekas.


Madiunpos.com, PONOROGO -- Tangan Abu Khaer, 62, terlihat terampil menggunakan pisau untuk menyayat ban bekas. Satu per satu ban bekas dipotong dan dikuliti hingga bersih dan kemudian kawat yang ada di dalam ban dikeluarkan.

Setelah itu, ban bekas kemudian digulung dan dibentuk melingkar dengan berbagai ukuran. Selanjutnya ban yang sudah melingkar sempurna dikaitkan dengan paku. Bak sampah dari ban bekas pun jadi. Tinggal kemudian diberi pegangan dan bak sampah limbah ban bekas pun siap dipasarkan.


Abu Khaer yang beralamat di Jl. Sukowati, Kelurahan Keniten, Kecamatan Ponorogo, ini tidak hanya memproduksi bak sampah, tetapi kerajinan berbahan ban bekas lainnya. (baca: http://solopos.com/?p=861411" target="_blank">Pengrajin Ponorogo Ubah Ban Bekas Jadi Sofa)


Dia menceritakan sebenarnya dirinya merupakan seorang pendatang dari Tegal, Jawa Tengah, dan mengadu nasib di Ponorogo. Pada tahun 1982, Abu datang ke Ponorogo untuk mencari peruntungan dengan membuat kerajinan dari ban bekas.


"Pengrajin ban bekas di Tegal sangat banyak. Sehingga tidak mungkin mengandalkan hidup dengan membuat kerajinan itu di Tegal. Untuk itu saya memutuskan merantau ke Ponorogo," ujar dia saat ditemui Madiunpos.com di rumahnya, Minggu (12/11/2017).


Saat merantau di Ponorogo, Abu Khaer membawa uang Rp30.000 yang kala itu cukup banyak. Kali pertama ke Kota Reog, Abu datang sendirian dan meninggalkan anak serta istri di Tegal.


Saat itu, kata Abu, Ponorogo belum seramai sekarang. Abu Khaer pun mengontrak rumah seharga Rp3.500 per tahun yang digunakan untuk tempat tinggal dan berkarya.


Setelah memiliki tempat untuk berkreasi, Abu kemudian keliling mencari ban bekas. Tak sulit untuk mencari ban bekas di Ponorogo, karena rata-rata bengkel mobil menganggap ban bekas adalah sampah. Dengan uang Rp2.000, Abu mendapatkan 1.000 ban bekas.


"Pemilik bengkel malah senang kalau ban bekas itu diambil. Karena terlalu memakan tempat," ujar dia.


Setelah itu, tangan kreatifnya mulai membuat berbagai kerajinan dari ban bekas itu, mulai tali, ember, dan bak minum ternak. Tak disangka, warga Ponorogo pun tertarik dan barang kerajinan Abu dengan cepat terjual.


Harga yang dibanderol saat itu hanya Rp500 per buah. Dua ban bekas bisa menjadi tiga bak minum ternak. (baca pula: http://solopos.com/?p=862166" target="_blank">Siswi Ponorogo Ubah Eceng Gondok Jadi Bioethanol)


Nama Abu pun semakin banyak dikenal warga Ponorogo sebagai pengrajin ban bekas. Hingga akhirnya usaha tersebut berkembang pesat. Abu Khaer pun sanggup membeli rumah yang selama ini dikontraknya.


Setelah perekonomiannya stabil, Abu pun membawa istri dan tiga anaknya ke Ponorogo. Setelah membeli rumah, Abu pun sanggup membeli sebidang tanah yang kini dijadikan tempat tinggalnya.


Hingga kini, pekerjaan sebagai pengrajin ban bekas masih dilakoninya. Hingga mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Dia merasa jalan rizkinya ada di ban bekas sehingga dirinya berkomitmen untuk terus berkarya membuat kerajinan ban bekas itu.


Hasil karyanya pun banyak diminati warga Ponorogo dan sekitar. Untuk saat ini, kerajinan ban bekas yang paling banyak diorder yaitu bak sampah.