KISAH TRAGIS : Sudah Sebatang Kara, Nenek-Nenek Madiun Ini Juga Lumpuh

Samini tertidur di kasur tipis bantuan warga di rumahnya, RT 009/RW 001, Desa Bener, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jumat (17/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI - Madiunpos.com)
19 November 2017 10:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Kisah Tragis, seorang nenek-nenek hidup sebatang kara tinggal di rumah sederhana dengan kondisi lumpuh.

Madiunpos.com, MADIUN -- Rumah sederhana di RT 009/RW 001, Desa Bener, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, itu tampak lengang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan terlihat di rumah itu. Namun, pintu rumah berlantai tanah itu terbuka lebar.

Saat Madiunpos.com melongok lewat pintu itu, terlihat sesosok wanita sepuh tergolek lemah di lantai tanah beralaskan kasur tipis. Wanita lansia itu tertidur pulas. Kerutan-kerutan di wajahnya terlihat jelas.

Nama wanita lanjut usia (lansia) itu Samini dan usianya 90 tahun. Di usianya yang sudah senja itu, Samini hanya hidup sebatang kara dan lumpuh serta menderita berbagai penyakit. Selain itu, beberapa alat inderanya seperti pendengaran dan matanya sudah tidak berfungsi secara maksimal.

Samini yang biasa dipanggil Mbah Kunting itu tinggal di rumah berukuran 3 meter x 10 meter. Rumah itu hanya terdiri atas satu ruangan dan tidak ada penyekatnya. Terlihat bekas dapur dan beberapa perabotan rumah tangga seperti piring dan kursi yang kotor teronggok di sudut rumah.

Rumah yang baru direnovasi secara sukarela oleh warga sekitar pada awal tahun itu tidak memiliki tempat mandi cuci kakus (MCK). Meskipun ada, Mbah Kunting pun tidak akan dapat menggunakannya karena tidak bisa berjalan.

Dinding rumah itu tidak sepenuhnya rapat. Banyak lubang di dinding yang terbuat dari tripleks. Itu terlihat saat terang, sinar matahari menerobos lubang dinding.

Selama ini Samini dirawat keponakannya, Painah, 50, yang rumahnya tidak jauh dari rumah Samini. Setiap hari Painah mengirimi Samini makanan.

Painah menceritakan sebenarnya keluarganya telah mengajak Samini untuk pindah dan tinggal bersama mereka. Tetapi, nenek-nenek yang telah ditinggal mati suaminya sejak belasan tahun lalu itu berkukuh tinggal di rumahnya sendiri.

Entah apa alasannya, Painah mengaku tidak mengetahuinya. Samini begitu saja tidak ingin tinggal bersama keluarganya tanpa memberikan alasan. Namun, dimungkinkan Samini enggan merepotkan keluarganya dan ingin hidup mandiri.

"Saya setiap hari bawa makanan dan minuman. Kalau makan bisa sendiri dan makannya juga banyak," ujar dia saat ditemui di rumah Samini, Jumat (17/11/2017).

Selain menyiapkan makan dan minum, Painah juga membersihkan dan mengganti pakaian wanita yang tidak memiliki anak ini. Lantaran tidak bisa berjalan, Samini buang air kecil maupun besar di kasurnya.

Painah menceritakan Samini telah tiga kali menikah. Namun, dari tiga kali pernikahan itu ia tidak dikaruniai anak.

Saat masih sehat, Samini bekerja sebagai penjual sayur di pasar. Namun, sejak lumpuh sudah tidak bekerja lagi.

Keponakan Samini lainnya, Sadin, 50, mengatakan rumah Samini telah diperbaiki dua kali yang didapat dari bantuan desa dan masjid setempat. Namun, dia tidak mengetahui secara pasti bantuan tersebut.

Kisah tragis Samini atau Mbah Kunting ini sempat viral di Facebook. Kali pertama kisah Samini ini diunggah Arif Witanto pada Jumat (17/11/2017). Dalam unggahan itu, seorang nenek-nenek yang diketahui namanya Samini tergeletak tak berdaya di lantai tanah dengan alas tikar seadanya.

Tokopedia